Selasa, 15 Juli 2014

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Keutamaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalan bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan Islam). Bulan ini sangat istimewa bagi umat Islam karena terdapat banyak keutamaan di dalamnya. Ibarat petani, Bulan Ramadhan adalah saat panen raya. Dibaratkan panen raya disebabkan bulan ini merupakan waktu dimana berbagai amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya jauh melebihi waktu-waktu diluar Ramadhan. Berikut keutamaan-keutamaan Bulan Ramadhan tersebut;

1. Ramadhan adalah Bulan diturunkannya Al-Quran
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah 185)

2. Bulan Pendidikan untuk Mencapai Ketaqwaan

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa "(QS. Al Baqarah 183)

3. Bulan Pernuh Keberkahan
"Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil mem¬peroleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya." (HR Ahmad, An-Nasa’l, dan Baihaqi).

4. Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)
“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

5. Bulan Dilipatgandakanya Amal Sholeh

Khutbah Rasululah saw pada akhir bulan Sa`ban “Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaung. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu,nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Bukhori-Muslim).

6. Dibuka Pintu Surga, Ditutup Pintu Neraka
“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. Muslim)

7. Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan yaitu Lailatul Qadar
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr 1-3)

Jumat, 30 Mei 2014

KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN




AMALAN DI BULAN SYA'BAN

Banyak orang meyakini bahwa bulan Sya’ban, terutama malam nishfu Sya’ban, merupakan saat yang memiliki fadlilah tersendiri. Karena itu, banyak orang melakukan amalan-amalan di bulan tersebut dengan maksud mendapatkan pahala yang lebih bayak. Amalan-amalan yang dilakukan beraneka ragam, mulai dari hal-hal yang bebentuk ibadah seperti puasa, dzikir dan berdoa; sampai hal-hal yang tidak bebentuk ibadah seperti membuat ketupat, membuat serabih; bahkan hingga hal-hal yang berbentuk maksiat.
Keutamaan Bulan Sya’ban
Menurut Islam, bulan Sya’ban memang memilki keistimewaan. Diceritakan dalam hadits shohih bahwa Usamah bin Zaid bertanya,”Ya Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa di suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban”. Rasulullah menjawab, “Itu (bulan Sya’ban) bulan yang dilalaikan manusia diantara bulan Rajab dan Ramadhan. Itu bulan dimana amal perbuatan (manusia) dilaporkan kepada Tuhan semesta alam. Karena itu aku menginginkan amal perbuatanku dilaporkan dalam keadaan aku sedang berpuasa”. (An-Nasa’iy:2317).
Secara khusus, malam nishfu Sya’ban juga disebutkan dalam hadits shohih sebagai malam yang memiliki keutama-an. Rasulullah Bersabada, “Sesungguh-nya Allah memandang (dengan kasih sayang) kepada makhluknya pada malam nishfu Sya’ban, lalu mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan orang-orang yang ber-musuhan”. (Ibnu Majah: 1380). Versi lain menyebutkan bahwa pada malam nishfu Sya’ban Allah mengampuni seluruh hamba-hambanya kecuali dua golongan, yaitu orang orang yang bermusuhan dan pembunuh. (Ahmad:6352).
Amalan-Amalan Yang Dianjurkan di Bulan Sya’ban
Di bulan Sya’ban umat Islam disunnah-kan memperbanyak puasa. Aisyah berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat Rasulullah berpuasa lebih banyak dari berpuasa di bulan Sya’ban”. (Bukhori: 1833). Hadits ini menggambarkan bagaimana puasa Rasulullah dalam satu tahun. Pada bulan Ramadhan Rasulullah berpuasa satu bulan penuh. Dan selain bulan Ramadhan, Rasulullah juga ber-puasa, tetapi yang paling banyak adalah pada bulan Sya’ban.
Tidak terdapat ketentuan jumlah hari dalam bulan Sya’ban dimana seseorang dianjurkan berpuasa. Selama bulan Sya’ban, seseorang boleh berpuasa hanya satu hari dan sudah mendapatkan keutamaan berpuasa bulan Sya’ban, boleh lebih dari satu hari, bahkan boleh berpuasa sebulan penuh dan bersam-bung dengan puasa bulan Ramdhan. Sebab, sebagaimana dituturkan Aisyah, Rasulullah juga pernah berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (Bukhori:1834).
Yang lebih penting bukanlah berapa hari seseorang melakukan puasa Sya’ban, tetapi seberapa mampukah seseorang melaksanakan puasa tanpa memaksakan diri dan seberapa mampukah seseorang merutinkan puasanya. Jadi, jika sese-orang hanya mampu melaksanakan puasa Sya’ban hanya satu hari, maka satu hari lebih baik dari pada lebih satu hari tetapi dengan memaksakan diri. Demikian pula puasa satu hari, tetapi dilaksanakan rutin setiap bulan Sya’ban, lebih baik dari pada puasa lebih dari satu hari tetapi bulan Sya’ban tahun berikutnya tidak puasa lagi. Rasulullah bersabda, “Ambillah amal yang kalian mampu melaksanakannya, karena se-sungguhnya Allah tidak ‘bosan’ hingga kalian bosan. Dan shalat yang paling disukai Nabi adalah shalat yang dirutinkan meskipun sedikit”. (Bukhori:1834, Muslim: 1302).
Tetapi, tentu saja berpuasa sebulan penuh lebih utama ketimbang puasa sepuluh hari, puasa sepuluh hari lebih utama ketimbang puasa lima hari, jika semuanya dilakukan sesuai kemampuan dan tanpa memaksakan diri serta dilakukan secara rutin.
Demikian pula, tidak ada hari paling utama untuk melakukan puasa Sya’ban. Seluruh hari dalam bulan sya’ban memiki derajat keutamaan yang sama. Jadi berpuasa pada tanggal satu sama derajat keutamaannya dengan puasa pada tanggal 15.
Terkait dengan tanggal, yang terpenting diketahui adalah bahwa berpuasa pada separoh terakhir bulan Sya’ban, yaitu tanggal 16 sampai dengan 30, hukumnya haram, kecuali jika puasa pada hari-hari tersebut bertepatan dengan puasa yang sudah rutin dijalankan.
Jadi, jika seseorang hendak berpuasa di bulan Sya’ban, maka ia tidak boleh ber-puasa pada tanggal 16 atau sesudahnya, kecuali dalam kasus-kasus berikut:
Jika seseorang sudah berpuasa sebelum tanggal 16, maka ia diper-bolehkan berpuasa pada separoh ter-akhir bulan Sya’ban. Misalnya, pada tanggal 15 atau sebelumnya sese-orang telah berpuasa Sya’ban, maka ia diperbolehkan berpuasa pada tanggal 16 dan sesudahnya.
Jika pada tanggal 16 atau sesudahnya bertepatan dengan hari dimana seseorang telah rutin menjalankan puasa, maka ia diperbolehkan men-jalankan puasa pada tanggal terse-but. Misalnya, seseorang rutin men-jalankan puasa Senin dan kebetulan hari tersebut jatuh pada tanggal 16, 23 dan 30 Sya’ban, maka ia diperbo-lehkan berpuasa pada tanggal-tanggal tersebut.
Jika seseorang memiliki hutang puasa, maka ia diperbolehkan mem-bayar (mengqodlo’) puasa tersebut pada separoh terakhir bulan Sya’ban. Misalnya, pada tahun 1430_H. sese-orang meninggalkan puasa karena udzur dan hingga tanggal 15 Sya’ban tahun 1432 ia belum membayarnya, maka ia diperbolehkan mengqodlo’ puasanya pada tanggal 16 Sya’ban atau sesudahnya.
Mengisi Malam Nishfu Sya’ban dengan Dzikir dan Doa
Pada malam nishfu Sya’ban umat Islam dianjurkan untuk menghidupkannya dengan melakukan dzikir dan doa. An-Nawawi berkata bahwa as-Syafi’iy dan pengikutnya berpendapat bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan dzikir dan doa termasuk sun-nah, meskipun hadits yang digunakan sebagai dasar lemah. Sebab dzikir dan do’a pada malam nishfu Sya’ban merupakan keutamaan amal (fadloilul a’mal) dan hadits dho’if bisa dijadikan dasar untuk hal-hal yang bersifat keutamaan amal. (An-Nawawy dalam Majmu’, 5:43)
Mengisi malam nishfu Sya’ban bisa dilakukan dengan membaca Yasin, Tahmid, Tasbih, Takbir, Istighafar atau dzikir dan doa lain. Tidak ada bacaan dzikir ataupun doa tertentu yang dianjurkan pada malam nishfu Sya’ban. Jadi, membaca Yasin sama besar pahalanya dengan membaca tasbih atau bacaan dzikir yang lain.
Diantara bacaan-bacaan yang dilakukan ulama adalah:
Surat Yasin  .1
 لاَاِلَهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيَن .2
اللَّهُمَّ يَا ذَالمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَالجَلَالِ وَالاِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْاِنْعَامِ لَااِلَهَ اِلَّا اَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ, وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ, وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ, اللهم اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِي اُمّ الْكِتَابِ شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللهم بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَطَرْدِيْ وَإِقْتَارِ رِزْقِي وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي اُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَزَّلُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ (يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ اُمُّ الْكِتَابِ). اِلَهِيْ بِالتَّجَلِّي اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ. اَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا نَعْلَمُ وَ مَا لاَ نَعْلَمُ. وَمَا اَنْتَ بِهِ اَعْلَمُ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَعَزُّ اْلاَكْرَمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Demikian pula, tidak terdapat hitungan tertentu yang dianjurkan dalam dzikir atau doa malam nishfu Sya’ban. Bacaan-bacaan tersebut bisa dibaca sekali, dua kali atau berapapun. Prinsipnya, semakin banyak seseorang membaca dzikir pada malam nishfu Sya’ban, semakin besar pahalanya dan semakin besar pula keutamaan yang diperoleh.
Amalan Bulan Sya’ban yang tidak diperbolehkan
Melakukan sholat nishfu Sya’ban yang biasanya berjumlah 100 rakaat dan di-lakukan dengan cara-cara tertentu adalah bid’ah munkaroh. Karena itu tidak boleh dilakukan. Hadits-hadits yang membicarakan amalan tersebut semuanya tidak bisa dipertangungja-wabkan. (An-Nawawy dalam Majmu’, 4:56).
Termasuk bid’ah munkaroh yang tidak boleh dijalankan adalah memasang ketupat di pintu rumah dan menyala-kan obor di sepanjang jalan menuju ru-mah dengan keyakinan bahwa ketupat dan obor tersebut bisa menjadi pe-tunjuk jalan bagi arwah nenek moyang yang akan pulang di bulan Sya’ban.
Amalan Mubah Di Bulan Sya’ban
Adapun membuat ketupat atau kue apem seperti tradisi di beberapa daerah yang dilakukan di bulan Sya’ban merupakan amalan mubah. Amalan-amalan tersebut tidak berhubungan dengan ibadah. Dan kalaupun diting-galkan juga tidak mendapat dosa. Tetapi jika membuat makanan-makanan tersebut dimaksudkan untuk sedekah, maka hal itu dapat menda-tangkan pahala bersedekah.

KHUTBAH JUM'AT: KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN


KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN


إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Hari ini kita telah memasuki bulan Sya'ban. Bulan Sya'ban, yang terletak diantara Rajab dan Ramadhan ini seringkali dilalaikan oleh manusia. Hingga Rasulullah SAW bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. (HR. An-Nasa'i. "Hasan" menurut Al-Albani)

Banyak orang yang lalai, bahkan sebagian menjadikan Sya'ban sebagai bulan pelampiasan. "Mumpung belum Ramadhan, kita puaskan maksiat", "Mumpung belum Ramadhan. Nanti kalau sudah Ramadhan, puasa kita bisa tidak sah", dan kalimat-kalimat senada kadang-kadang muncul dalam masyarakat kita sebagai bentuk betapa tertipunya manusia di bulan Sya'ban.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Dari Rasulullah kita menjadi tahu bahwa ternyata bulan Sya'ban adalah bulan yang istimewa. Mengapa? Sebab bulan ini adalah bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda dalam kelanjutan hadits di atas:

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِي

Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. (HR. An-Nasa'i dan Ahmad. "Hasan" menurut Al-Albani)

Itulah keutama'an bulan Sya'ban yang pertama. Bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT.

Keutamaan kedua bulan Sya'ban adalah, pada pertengahannya. Inilah yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya'ban. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan nishfu Sya'ban :

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Itulah dua keutamaan bulan Sya'ban, dan cukuplah hadits shahih bagi kita. Ada memang cukup populer di masyarakat tentang keutamaan Sya'ban sebagai bulan Rasulullah. Namun itu adalah hadits dha'if. Diantaranya adalah:

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. (HR. Dailami)

Hadits itu adalah hadits dha'if. Demikian pula hadits-hadits sejenis tentang keutamaan bulan Sya'ban yang senada dengan itu.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Lalu apa amal di bulan Sya'ban yang dicontohkan Rasulullah SAW? Ini penting untuk kita ketahui dan amalkan. Sebab selain menghidupkan sunnah, mengikuti contoh dan teladan dari Rasulullah SAW adalah bukti cinta kita kepada Allah SWT.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Amal di bulan Sya'ban yang pertama, yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah memperbanyak puasa sunnah.

حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya'ban." Rasulullah menjawab, "Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa." (HR. An-Nasa'i. Al Albani berkata "hasan")

Begitulah. Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan Sya'ban sekaligus menginginkan agar ketika amalnya diangkat pada bulan Sya'ban itu, Rasulullah SAW dalam keadaan sedang berpuasa.

Ummul Mukminin Aisyah juga meriwayatkan kebiasaan Rasulullah SAW itu.

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya'ban. (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan "berpuasa sebulan penuh" padahal yang dimaksud adalah "berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu".

Dari keterangan di atas, tahulah kita bahwa berpuasa sunnah di bulan Sya'ban menjadi begitu istimewa karena pada bulan itu amal diangkat, bulan itu dilalaikan oleh banyak orang, dan sekaligus puasa Sya'ban merupakan persiapan puasa Ramadhan.

Syaikh Muhyidin Mistu, Mushthafa Al-Bugha, dan ulama lainnya mengomentari menjelaskan dalam Nuzhatul Muttaqin, "Berpuasa sunnah pada bulan Sya'ban memiliki keistimewaan tersendiri. Sekaligus untuk persiapan menghadapi puasa Ramadhan. Selain itu, di bulan Sya'ban lah semua amal perbuatan manusia dinaikkan kepada Allah"

Yang perlu diperhatikan adalah, tidak boleh mengkhususkan berpuasa pada satu atau dua hari terakhir Sya'ban kecuali puasa yang harus ditunaikan (karena nadzar, qadha' atau kafarat) atau puasa sunnah yang biasa dilakukan (puasa Dawud, Senin Kamis, dan lain-lain).

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa. (HR Bukhari)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Amal kedua pada bulan Sya'ban ialah melunasi hutang-hutang puasa, khususnya bagi wanita yang masih belum selesai mengqadha' puasa Ramadhan sebelumnya. Demikian pula bagi kita untuk mengingatkan keluarga kita agar memanfaatkan Sya'ban bagi yang belum selesai meng-qadha puasanya.

Aisyah berkata:

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ . قَالَ يَحْيَى الشُّغْلُ مِنَ النَّبِىِّ أَوْ بِالنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم

Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya'ban, karena sibuk melayani Nabi SAW. (HR Bukhari)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Amal ketiga pada bulan Sya'ban ialah memperbanyak ibadah dan amal kebajikan secara umum. Entah itu menggiatkan shalat rawatib, qiyamullail, tilawah Al-Qur'an, bershadaqah, dan lain-lain. Mengingat bahwa bulan Sya'ban adalah bulan diangkatnya amal, maka alangkah baiknya ketika amal kita benar-benar bagus pada bulan itu. Dengan catatan tetap sesuai sunnah.

Adapun malam nishfu Sya'ban, sebagaimana hadits di atas ia memang memiliki keutamaan. Ibnu Taimiyah menegaskan "Adapun malam Nishfu Sya'ban, di dalamnya terdapat keutamaan."

Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi'in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma'dan dan Luqman bin Amir yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu Sya'ban. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, "Ini bukan bid'ah!"

Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza'i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat dan berdoa bersama pada Nishfu Sya'ban. Tetapi beliau dan ulama yang lain menyetujui keutamaan shalat, baca Al Quran dan lain-lain pada Nishfu Sya'ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali dan Ibnu Taimiyah.

Adapun ulama Hijaz seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu Sya'ban sebagai bid'ah. Namun menurut mereka, qiyamullail sebagaimana disunnahkan pada malam lainnya dan puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik.

Semoga perbedaan pendapat mengenai Nishfu Sya'ban ini dipahami dengan baik dan tidak menghalangi kita untuk melaksanakan segala amal ibadah utama pada bulan Sya'ban. Amin Ya Robbal Alamin.

Jumat, 09 September 2011

HALAL BIHALAL IDUL FITRI 1432 H / 2011 M

Halal adalah sesuatu yang diperbolehkan serta tidak mengundang dosa. Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa. menjadi halal dengan jalan memohon maaf.

Kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti "menyelesaikan problem", "meluruskan benang kusut", "melepaskan ikatan", dan "mencairkan yang beku".
Jika demikian, ber-hala bihalal merupakan suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan pada pelakunya untuk meluruskan benag kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap tidal adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungan dari kesalhpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang beku dihangatkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.
Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehingga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan , maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal . Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.

Menurut Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “membumikan Al Qur ‘an” bahwa “Halal Bi Halal adalah kata majemuk yang terdiri atas pengulangan kata “halal”, di impit oleh satu huruf (kata penghubung) “Ba” (baca Bi) kalau kata majemuk tersebut diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yakni “Acara Maaf-maafan pada hari lebaran”, maka dalam Halal Bi Halal terdapat unsur silatur rahmi. Pengertian kedua kata tersebut dapat menjadi sangat luas seperti apa yang dikemukakan berikut ini. Kemudian beliau menulis: Kita tidak menemukan dalam Al-Qur’an atau Hadits suatu penjelasan tentang arti “Halal Bi Halal”. Istilah tersebut memang khas Indonesia, bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun yang bersangkutan. paham ajaran agama dan bahasa Arab.

Manusia akan senantiasa mendapatkan rahmat Allah jika mereka suka melakukan silaturrahmi. Karena silaturrahmi merupakan salah satu tanda keakraban persaudaraan antara mereka. Pada dasarnya manusia berasal dan pasangan Adam AS dan istrinya Hawa, dari rahim Hawa (rahim yang satu) lahirlah anak keturunannya yang kemudian melahirkan manusia- manusia dan termasuk kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 1.


Idul Fitri

Id artinya kembali dan Fitri artinya “agama yang benar”. Fitrah berarti kesucian dapat dipahami dan bahkan bisa dirasakan maknanya pada saat anda duduk termenung seorang diri. Ketika pikiran anda mulai tenang, kesibukan hari-hari anda dapat teratasi, akan terdengar suara nurani yang mengajak anda untuk berdialog dengan Sang Pencipta. Yang mengantar anda untuk menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya. dan betapa kuasanya Sang Khalik Yang Agung. Suara yang anda dengarkan itu adalah suara fitrah manusia, suara kesucian. Suara itulah yang dikumandangkan pada IduI fitri. yakni Allahu akbar Allahu akbar Sehingga kalimat-kalimat itu benar-benar tertancap dalam jiwa. maka akan hilanglah segala kebergantungan kepada unsur -unsur lain kecuali kepada Allah semata.

Halal Bi halal sama dengan Silaturrahmi & Maaf-memaafkan Silaturrahmi maupun Halal Bi Halal menuntut upaya kepada maaf-memaafkan. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karim surat Ali Imran ayat 134.

Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling mulia? Yaitu: Menyambung silaturrahmi (hubungan kekeluargaan dan persaudaraan) dengan orang yang memutuskan hubungan silaturrahminya denganmu. Memberi kepada orang yang tidak mau atau tidak pernah memberimu. Memaafkan orang yang pernah menzhalimimu atau menganiayamu. (H.R. Al-Hakim)

Pernah dalam sejarah seorang sahabat bersumpah untuk tidak berbuat baik kepada seseorang yang melakukan kesalahan terhadap keluarganya, maka turunlah ayat Al Qur’an untuk memberikan teguran akan sikapnya itu. Allah SWT berfirman surat An Nuur ayat 22.

Minal ‘Aidin Wal Faizin

Kalimat yang selalu kita ucapkan ketika Idul Fitri adalah Minal ‘Aidin wal Faizin. Kalimat ini terangkai dari kata ‘Aidin dan Faizin. ‘Aidin adalah bentuk pelaku Id. Dan Al Faizin adalah bentuk jamak dari Faiz yang berarti orang yang beruntung. Kata ini terambil dari kata Fauz yang berarti keberuntungan atau kemenangan.

Kita telah melalui Ramadhan yang penuh dengan rahmat Allah. maghfirah Allah dan itqun minannar. Kita telah lalui Ramadhan dengan melaksanakan puasa yang dilandasi keimanan yang murni dan ikhlas lillahi ta’ala. Tiada yang kita harapkan selain derajat taqwa yang dijanjikan Allah bagi siapa saja dari hamba-Nya yang mau menggapainya. Sesungguhnya hanya orang yang bertaqwalah yang paling mulia disisi Rabbul ‘Izzah: Allah SWT.

Untuk menyempurnakan keimanan dan kematangan taqwa yang mudah-mudahan itu telah kita peroleh dipenghujung Ramadhan yang lalu dengan puasa kita, dimana puasa adalah amat ritual vertikal kita kepada Allah (Hablun Minallah), maka kini kita sempumakan dengan melakukan amal horizontal kita sesama manusia (Hablun Minannas). Karena rasanya mustahil keimanan dan ketaqwaan dapat kita capai jikalau urusan kita sesama manusia belum beres. Kalau masih ada rasa dendam didalam hati, masih ada rasa iri hati dan dengki, amarah yang belum juga padam, dan hal-hal kecil lainnya yang masih bersemayan dalam kalbu kita. maka bagaimana mungkin kita dapat dikatakan termasuk orang-orang yang bertaqwa. Rasulullah SAW berpesan kepada kita semua melalui hadits :

“Jauhilal oleh kalian akan dzan (prasangka), karena prasangka itu adalah dusta yang amat besar. Janganlah kalian mencari kesalahan orang lain, jangan pula mencari-cari aib (keburukan) orang lain, janganlah pula kalian bersaing (dengan tidak sehat), janganlah kalian saling iri dan dengki, jangan saling benci, jangan saling bermusuhan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. At Tirmizi)

Selasa, 23 Agustus 2011

KHUTBAH IDUL FITRI 2011 M / 1432 H

Khutbah Idul Fitri 2011 (1432 H):

Assalamualaikum Wr. Wb.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

اَللهُ اَكْبَرُ كبِرَوَاْلحَمْدُ لِ اللهِ كثِيْرَوًسُبْحَان اللهِ بُكْرَه وَّاَصِيْلَا لااِله اِلا اللهُ وَحْدَهُ صَدَ قَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَ هُ

وَاَزَ جُوْن هُ وَهَزَمَ اْلاحْزَابَ وَحْدَ هُ لااِله اِلا اللهُ وَلنَعْبُدُوْ اِلا اِيَّا هُ مُحْلِصِيْن لهُ اّلدِيْن وَلوْ كرِ ه اْلكافِرُوْن لا اِله اِلا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُوَلِلِه اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allohu Akbar 3 X Walillahilham
Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Sadaya puji kagungan Allah nu maha suci, maha rohman rohim tur maha taliti. Sadaya puja mung wungkul kanggo Alloh SWT anu maha pangampura ka urang sadaya salaku makhlukna. Sholawat sinareng salamna, mugia ngucur ka rosul pinunjul, Rosululloh Muhammad SAW. Kakulawargina, ka para sohabatna, ka para tabi’in, tabi’it tabi’in sareng sadaya penerus risalahna dugi ka akhir zaman. Amin....Ya Robbal Alamin...

Allohu Akbar 3 X Walillahilham
Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Tadi wengi, umat Islam ngumandangkeun Takbir, Tahlil, Tasbih sareng Tahmid, ngagungkeun, nga-Esakeun, sareng muji ka Gusti nu Maha Suci, Alloh Subhanahu Wata’ala. Ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut seja angkat ka masjid kanggo ngalaksanakeun Sholat Idul Fitri. Sasasih campleng parantos dieusi kurupi-rupi ibadah sareng amal-amal sholeh, mugia ibadah sareng amal sholeh ieu, janten kahadean kanggo urang sadaya, boh keur kahirupan di dunya, utamina pikeun pibekeleun mulang ka alam akherat. Amin....Ya robbal Alamin...

Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Sasasih lamina urang salaku umat Islam ngalakonan Ibadah puasa Romadon, Taraweh, Zakat Fitrah sareng Tadarus Al Qur’an, kalayan pinuh ku kasabaran, katekunan, kaikhlasan, sinareng kaimanan. Dina situasi Idul Fitri kiwari Pamudah-mudahhan urang sadaya janten insan anu Fitrah tur Taqwa sarta aya dina kemenanngan, minal’aidin wal fa’izin. Amin....Ya robbal Alamin...

Allohu Akbar 3 X Walillahilham
Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Seueur diantara urang sadaya ngagaduhan emutan, Idul Fitri ngarupikeun puncak kemenangan, tapi cobi di emut deui, pami aya puncak tangtos bakal nyorang pudunan. Kusabab eta, ulah dugika perjuangan urang sasasih lamina dina bulan romadon, kanggo ngenginkeun taqwa sareng fitrah, justru kembali janten fitnah, Anu tadina rajin ibadah tur katingali semangat, saba’da romadon jadi teu rajeun kusabab gaduh anggapan parantos tamat. Na’udzubillahi min dzalik. Kusabab eta kemenangan sajati, mungwungkul kagungan jalmi-jalmi anu istiqomah dina ibadah sareng taqwa ka Alloh.
Firman Alloh SWT na Al Qur’an Surat Al-Insyiroh (94) : 7-8:

فإدإفرغت فإنصب ٧ وإلي ربك فِإرغب ٨

7. Kusabab eta, upama maneh geus rengse (tina hiji urusan), gera terus gawean (urusan lainna, kalayan sungguh-sungguh).
8. Jeung ngan wungkul ka pangeran maneh, kuduna maneh miharep

Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Mugia urang dinten ieu janten pemenang, Minal aidin wal faizin, kembali fitroh tur taqwa ka Alloh. Sambungkeun tali silaturahmi sareng kadang wargi, urang ngalubarkeun dosa sareng kadang warga sadaya. Tebihkeun rasa umaku dina diri paling suci . Margi jalmi anu sae, sanes berarti salami hirupna teu pernah ngalakonan dosa, tapi jalmi nu sae, nyaeta jalmi anu geuwat nuhunkeun pangampura ka Alloh SWT, tina sadaya dosa anu pernah dipilampahna, sarta nganiatkeun dina atina, henteu bade ngalakukeun deui.

فسبح بحمد ربك وإستغفره إنه كإن توإ بإ

Prak geura ngamahasucikeun pangeran maraneh bari muji, sarta geura menta dihampura ka Anjeuna, saestuna anjeuna nu salawasna nampi tobat (Q.S. An Nashr/ 110: 3).

ربنإ إغفر لي ولو لد ي وللمو منين يو م يقو م إلحسإ ب

Nun Gusti Pangeran abdi sadaya, mugi gusti maparin pangapunten ka abdi sareng ka ibu bapa abdi, miwah sadaya kaum muslimin dina dinten dilaksanakennana hisab (Ibrahim/14 : 41)

رب إغفر لي ولو لد ي وإرحمهمإ كمإ ربيإ ني صغيرإ

Nun Gusti Pangeran abdi sadaya, mugi gusti maparin pangapunten ka abdi sareng ka ibu bapa abdi, Sareng pikanyaah aranjeunanana, sakumaha aranjenanana mikanyaah ka abdi waktos abdi masih alit.

Allohu Akbar 3 X Walillahilham
Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Kahirupan di dunya ngan wungkul ujian, nikmat sehat ngarupiken amanat, naha urang parantos tiasa ngamanfaatkeunnana, demi perjuangan ngabela hak sareng ka adilan ?
Nikmat harta oge amanat, naha urang parantos tiasa ngamanfaatkeun eta harta, kanggo kasalametan diri, kulawarga, nagara sareng kelangsungan da’wah Islamiyah ?
Nikmat panjang yuswa oge amanat, naha urang parantos tiasa ngamanfatkan hirup urang, supados bermanfaat pikeun diri, kulawarga, nagara katut agama. Taroskeun ka diri, Sabaraha loba ibadah, sareng amal soleh nu parantos dipilampah ?
Ngagaduhan Elmu oge, eta amanat anu kalintang berhargana, upami urang tiasa ngamalkeun eta elmu, kago kamaslahatan umat, dina raraga ngilari rido Alloh SWT.

Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Kasempetan beribadah, teu nganwungkul di bulan Romadon, tapi salami urang hirup gumelar di alam dunya, maka urang ngagaduhan kawajiban kanggo beramal soleh sareng beribadah ka Alloh SWT.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

Alloh anu parantos ngahirupken sareng ngamaotkeun makhlukna. Kanggo nguji ka urang sadaya,, saha nu leuwih alus hirupna, sareng ikhlas amalna.

Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !

Saleresna Beruntung, pikeun jalmi-jalmi anu tiasa neraskeun qiyamulail saba’da Romadon lekasan.
Saleresna Kacida bagjana, pikeun jalmi-jalmi anu tiasa neraskeun tadarus Al Qur’an dugi ka tutup umurna di alam dunya.
Saleresna kasuksesan, mung wungkul pikeun jami-jalmi anu mampu ngendalikeun hawanafsuna, dimana bae ayana.
Saleresna Sukses, pikeun jami-jalmi anu mampu ngalaksanakeun Sholat berjamaah atanapi ibadah berjamaah, dugi ka akhir kasempetana beribadah.

با رك الله لي ولكم في القرآن الكريم و نفعني و إياكم بما فيه من الأيات و الذكر الحكيم ، أقول قولي هذا و استغفر الله العظيم لي و لكم

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر


اَللهُ اَكْبَرُ كبِرَوَاْلحَمْدُ لِ اللهِ كثِيْرَوًسُبْحَان اللهِ بُكْرَه وَّاَصِيْلَا

لا اِله اِلا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُوَلِلِه اْلحَمْدُ

Hadirin wal Hadirot Sidang Idul Fitri Rohimakumulloh !
Panutup catur pamungkas Khutbah waktos ayeuna, hayu urang sadaya ngado’a ka Alloh SWT.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أما بعد : فيا أيها المؤمنون اتقوا الله تعالى قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اٰ مِنْ يَا رَبَّ اْلعٰلَمِيْنَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ اّلدَ عَوَاتِ وَ قَا ضِيَ اْلحَا جَا تِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Wr. Wb.



Sabtu, 20 Agustus 2011

TESIS

Eman Leman, “Implementasi Metode Inquiri untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPS Ekonomi di SMP” (Studi Eksprerimen di Kelas VIII SMP N 2 Cibeureum Kecamatan Cibeureum Kabupaten Kuningan).

Prof. Dr. H. Disman, M.S., Dr. H. Iskandar, M.M.

Latar belakang penelitian ini adalah adanya kenyataan dilapangan menunjukan kegiatan pembelajaran di kelas hanya berpusat pada guru, sementara siswa hanya sebagai penerima apa yang disampaikan guru, dengan kata lain masih bersifat konvensional. Hal ini menyebabkan siswa bosan dalam belajar sehingga keterampilan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa rendah.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa sebelum pembelajaran antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada saat dilakukan test awal (pretest).Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa setelah pembelajaran antara kelas eksperimen yang menggunakan metode inquiri dan kelas kontrol yang menggunakan pempelajaran konvensional pada saat dilakukan test akhir (postest).Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa sebelum pembelajaran pada saat dilakukan test awal (pretest) dan setelah pembelajaran pada saat dilakukan test akhir (postes) di kelas eksperimen yang menggunakan metode inquiri.Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa sebelum pembelajaran pada saat dilakukan test awal (pretest) dan setelah pembelajaran pada saat dilakukan test akhir (postest) di kelas kontrol yang menggunakan Pembelajaran Konvensional.Untuk mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kritis siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan Metode Inquiri dan kelas kontrol yang menggunakan Metode Konvensional.

Subyek Penelitian ini yaitu SMP N 2 Cibeureum, dengan obyek penelitiannya adalah Siswa SMP N 2 Cibeureum kelas VIII. Variabel yang diteliti terdiri dari satu variabel bebas (variabel indevenden) dan dua variabel terikat (variabel devenden). Variabel bebasnya adalah Metode Inquiri (X), sedangkan variabel terikatnya adalah keterampilan berfikir kritis (Y1), dan prestasi belajar siswa (Y2). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Uji alat tes penelitian menggunakan: Uji validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran. Uji analisis prasyarat menggunakan uji normalitas, dan homogenitas. Uji hipotesis menggunakan uji gain, dan uji t dengan bantuan program SPSS statistik 17,0.

Hasil penelitian menunjukan bahwa:
1. Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar siswa sebelum pembelajaran antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada saat dilakukan test awal (pretest).
2. Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa setelah pembelajaran antara kelas eksperimen yang menggunakan metode inquiri dan kelas kontrol yang menggunakan pempelajaran konvensional pada saat dilakukan test akhir (postest).
3. Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa sebelum pembelajaran pada saat dilakukan test awal (pretest) dan setelah pembelajaran pada saat dilakukan test akhir (postest) di kelas eksperimen yang menggunakan Metode Inquiri.
4. Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar siswa sebelum pembelajaran pada saat dilakukan test awal (pretest) dan setelah pembelajaran pada saat dilakukan test akhir (postest) di kelas kontrol yang menggunakan Pembelajaran Konvensional.
5. Terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan Metode Inquiri dan kelas kontrol yang menggunakan Pembelajaran Konvensional.